ia anakku,,
seorang pria yang kubesarkan dengan tetesan darah.
seorang pria yang meknimati hidupnya di tengah gunjingan.
terakhir kali aku melihatnya tersenyum, sekitar satu minggu yang lalu.
hah! itu waktu yang sama saat ia terakhir pulang ke rumahnya.
saat itu, ia bercerita dengan girangnya,,
telah ia temukkan tulang rusuknya..
tapi aku ingat, tepat 6 tahun yang lalu,
ia juga bercerita tak kalah girangnya
katanya waktu itu, ia temukan juga tulang rusuknya.
dan yang membuatku heran, dua hari yang lalu,,
wanita yang ia ceritakan 6 tahun lalu itu,,
masih berkunjung ke rumah dengan senyum yang merekah.
ia, pejantan kecil ku.
yang seiring ia dewasa,
semakin sering ia mendengar kata "bajingan" dilemparkan untuknya
tapi ia tetap tegar,
tetap bertahan dengan tato yang memenuhi tubuhnya hingga ajal
tetap dengan sebotol bir dan sebatang rokok yang tak lepas dari hidupnya
pun juga tetap dengan musik rock yang menghidupi nya itu.
aku mengingat sekali lagi,,
saat pejantan ku itu jatuh.
saat seluruh orang memandang nya jijik
saat ia dengan sepenuh tenaga ingin membungkam mulut orang-orang yang menginjak kaum minoritas.
dan juga menghajar rahang orang-orang yang sok penting diluar, tapi terlalu busuk di dalamnya.
lalu tiba-tiba semalam, nomor tak dikenal menghubungiku
ia mengaku sebagai perempuan dari anak lelaki ku,,
ia sadar, bahwa ia bukan yang pertama!
olala, rupanya pejantan ku telah berubah menjadi casanova!
aku hanya tertawa dalam hati,
lalu ia mengungkapkan seberapa besar terpesona nya ia pada anak lelaki ku.
tapi aku hanya berfikir,,
apa mampu ia menjalani nya.
dengan dua wanita, yang salah satunya sudah menjadi separuh jiwanya.
dan betapa sakitnya si perempuan kedua, yang mungkin hanya menggilai anak lelaki ku.
padahal anak lelaki ku tak pernah bercanda berhubungan dengan perempuan.
lalu aku terhenyak,,
saat aku berusaha mengingat dengan jelas,,
mengingat semampuku..
dan aku baru sadar, dia memang anak lelaki ku.
memang berandalan dengan sejuta pesona.
#akan dilanjutkan pada saat yang tepat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar